Lampung Selatan, Dailynewslampung — Kondisi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dermaga Bom Kalianda, Kabupaten Kalianda, kini menjadi sorotan. Tiga tahun setelah kewenangan pengelolaan dialihkan dari pemerintah daerah ke Pemerintah Provinsi Lampung, aktivitas di kawasan tersebut justru meredup dan dinilai kehilangan fungsi sebagai pusat ekonomi nelayan.
Wakil Ketua I DPRD DPRD Lampung Selatan, Merik Havit, menegaskan pihaknya terus mendorong agar TPI Dermaga Bom kembali difungsikan secara optimal.
Menurut Merik, keberadaan TPI memiliki dampak ekonomi yang luas, tidak hanya bagi nelayan, tetapi juga pedagang ikan, pelaku UMKM, hingga pendapatan asli daerah (PAD).
“Dalam rapat paripurna terakhir, kami merekomendasikan agar OPD terkait segera melakukan langkah konkret untuk mengaktifkan kembali TPI Dermaga Bom,” kata Merik.
Ia menjelaskan, sebelum pengelolaan dialihkan ke pemerintah provinsi, kawasan TPI Dermaga Bom menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Kapal-kapal nelayan dari luar daerah rutin bersandar dan melakukan transaksi hasil tangkapan dengan nilai mencapai jutaan rupiah.
Kondisi tersebut turut menggerakkan roda perekonomian warga sekitar, mulai dari pemilik kos-kosan, pedagang kuliner, hingga pelaku usaha kecil lainnya.
“Dulu ramai. Nelayan dari luar daerah sering sandar di sana. Sekali transaksi bisa jutaan rupiah. Itu menghidupkan ekonomi warga, kos-kosan penuh, pedagang juga ikut merasakan,” ujarnya.
Namun setelah kewenangan pengelolaan beralih, aktivitas di kawasan TPI perlahan menurun. Sejumlah UMKM tutup, sementara sebagian nelayan mengurangi aktivitas melaut akibat minimnya akses pemasaran hasil tangkapan.
Merik juga menyoroti munculnya praktik transaksi hasil tangkapan di tengah laut. Menurutnya, para pengusaha membeli ikan sebelum kapal nelayan bersandar sehingga transaksi tersebut tidak memberikan kontribusi bagi daerah.
Selain itu, keberadaan SPBN di kawasan Dermaga Bom juga dinilai perlu mendapat perhatian serius. Ia mengkhawatirkan potensi penyimpangan distribusi solar subsidi karena terdapat nelayan yang tidak melaut namun penyaluran bahan bakar tetap berjalan.
Merik berharap Bupati Radityo Egi Pratama dapat mengambil langkah strategis dengan membangun koordinasi bersama pemerintah pusat guna mencari solusi atas persoalan tersebut.
Menurutnya, peluang penanganan terbuka melalui koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
“Kami berharap bupati bisa menjembatani komunikasi dengan pemerintah pusat. Dengan koordinasi yang baik, saya yakin persoalan ini bisa segera dicarikan solusi,” pungkasnya.(Red)