Connect with us

Tanggamus

ANJAU SILAU: MARHADI TURUN KE SEMAKA PERERAT TALI SILATURRAHMI DENGAN KAWAN LAMA

Published

on

Tanggamus –DNL :  Di tengah kesibukan kehidupan modern yang sering kali membuat jarak semakin terasa, sebuah perjalanan sederhana namun penuh makna kembali mengingatkan kita akan pentingnya menjaga tali persaudaraan. Sabtu (25/04/2026), Marhadi, yang akrab disapa Bung Ledy dan merupakan putra daerah Pesisir Barat, sengaja menempuh perjalanan jauh menuju Pekon Kanoman, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, dalam rangka melaksanakan tradisi Anjau Silau – suatu tradisi silaturrahmi yang hangat dan penuh keakraban.
Marhadi mengungkapkan bahwa niatnya datang ke Semaka murni untuk bertemu kembali dengan kawan-kawan lama yang telah lama tidak berjumpa. Menurutnya, kesibukan masing-masing sering kali menjadi alasan terpisahnya jarak, namun hati yang tulus selalu mampu menjembatani segala keterbatasan.
“Saya dulu pernah menjaga Jembatan Kanoman ketika jembatan itu masih berupa jembatan gantung,” ungkapnya, mengenang masa lalu.
“Perjalanan ini saya lakukan dengan hati yang senang. Meski harus menempuh jarak yang cukup jauh dari Pesisir Barat menuju Pekon Kanoman Semaka, semuanya terasa ringan karena tujuannya mulia, yaitu mempererat silaturrahmi. Bertemu kembali dengan kawan lama membawa kenangan indah yang tak ternilai harganya,” tambahnya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya saat ditemui di lokasi pertemuan.
Kedatangan Marhadi atau yang akrab disapa Bung Ledy ini disambut penuh kegembiraan oleh teman-teman lamanya. Suasana pertemuan pun langsung terasa hangat. Mereka saling  berbagi cerita tentang perjalanan hidup, perkembangan daerah masing-masing, serta berbagai pengalaman yang telah membentuk diri mereka hingga saat ini. Tawa riang dan kenangan masa lalu seolah menyatu kembali, seolah-olah waktu yang memisahkan mereka selama ini tak pernah ada.
Para kawan dan saudara yang hadir menyambut baik inisiatif yang dilakukan Marhadi. Mereka menilai bahwa kegiatan semacam Anjau Silau ini menjadi teladan yang sangat berharga di tengah keadaan zaman sekarang. Di tengah masyarakat yang cenderung semakin individualis, menjaga hubungan baik dengan sesama, memperkuat persatuan, dan menumbuhkan rasa kebersamaan merupakan investasi kehidupan yang paling berharga dan tak ternilai harganya.
“Hubungan baik yang terpelihara akan menjadi kekuatan bagi kita semua. Silaturrahmi seperti ini mengajarkan kita bahwa jarak dan waktu bukanlah penghalang jika di dalam hati ada niat yang tulus untuk saling mengingat dan menjaga,” ungkap salah seorang teman Marhadi.
Diharapkan, semangat silaturrahmi seperti yang ditunjukkan oleh Marhadi ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi banyak orang di lingkungan sekitar. Karena pada hakikatnya, tali persaudaraan yang terus dirawat dan dipelihara akan tetap kuat terjalin, meski terpisah oleh jarak yang jauh dan waktu yang terus berjalan.tutupnya
(Rizal)

Tanggamus

8 Bulan Tak Digaji Plt Kepsek SDN 1 Pardawaras Diduga Gelapkan Honor Guru Untuk Bayar Hutang Lama

Published

on

By

Tanggamus DNL : Nasib memprihatinkan dialami empat guru honorer SD Negeri 1 Pardawaras, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus Lampung, Di Duga gaji empat guru honorer selama delapan bulan di gelapkan Kepsek PLT SDN 1 pardawaras Uang HabÔis Buat Bayar Utang Kepsek Terdahulu, Di tengah pengabdian mereka mencerdaskan anak bangsa, hak berupa upah honor justru belum diterima,(5/8/26).
Empat guru honorer tersebut masing-masing berinisial SP, LN, AG, dan MT. Mereka tetap menjalankan tugas mengajar di SD Negeri 1 Pardawaras, namun hingga kini honor mereka belum dibayarkan.
Saat dikonfirmasi awak media  Pelaksana Tugas (Plt) Kepsek SD Negeri 1 Pardawaras berinisial S mengakui bahwa honor keempat guru honorer tersebut memang belum dibayarkan.”ungkapnya,
Menurutnya, salah satu pertimbangan karena keempat guru tersebut masih berstatus sebagai mahasiswi. Namun di sisi lain, S juga mengakui bahwa dana yang semestinya digunakan untuk membayar honor guru honorer telah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah serta menutupi kewajiban yang ditinggalkan kepala sekolah sebelumnya.
“Saya akui memang untuk upah empat guru honorer belum dibayarkan selama delapan bulan karena uangnya sudah habis untuk menutupi kebutuhan sekolah, serta Untuk Membayar Utang Kepsek Terdahulu,”ujarnya,”
Kepsek PLT kepada awak media.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan publik. Pasalnya, pembayaran honor guru honorer merupakan salah satu komponen penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diperbolehkan sesuai ketentuan sepanjang memenuhi persyaratan yang berlaku.
Berdasarkan data yang dihimpun, SD Negeri 1 Pardawaras pada Tahun Anggaran 2026 tercatat memiliki alokasi Dana BOS untuk pembayaran honor tenaga honorer sebesar Rp14.100.000 pada tahap I dan Rp7.920.000 pada tahap II.
Selain itu, terdapat pula alokasi Dana BOS untuk kegiatan administrasi sekolah sebesar Rp33.305.000 yang juga menjadi perhatian terkait efektivitas dan transparansi penggunaannya.
Tak hanya itu, kondisi sarana dan prasarana sekolah juga menjadi sorotan. Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, kondisi fisik sekolah dinilai belum mencerminkan adanya penggunaan anggaran sarana dan prasarana sebagaimana tercantum dalam alokasi Dana BOS tahun sebelumnya.
Situasi tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan. Mengapa honor guru honorer yang telah melaksanakan tugas mengajar justru belum dibayarkan, sementara Dana BOS memiliki alokasi untuk komponen pembayaran honor? Benarkah penggunaan anggaran telah sesuai dengan petunjuk teknis pengelolaan Dana BOS? Apakah penggunaan dana untuk menutupi kebutuhan sekolah maupun kewajiban sebelumnya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku?
Masyarakat berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Inspektorat Kabupaten Tanggamus, maupun aparat pengawas lainnya segera Secara Tegas’ Turun Kesekolahan melakukan Audit pemeriksaan terhadap pengelolaan Dana BOS  SD Negeri 1 Pardawaras guna memastikan seluruh penggunaan Anggaran sesuai dengan ketentuan serta menjamin hak para guru honorer terpenuhi.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya memperoleh tanggapan dari Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus terkait persoalan tersebut.
( Tim )

Continue Reading

Tanggamus

Setelah Drama klarifikasi BUMdes Kacapura Usai, Warga Nantikan Inspektorat Tanggamus Bertindak

Published

on

By

Tanggamus  DNL : Carut-marut pengelolaan dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berdikari di Pekon Kacapura, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, kini memasuki babak krusial. Geram dengan sederet kejanggalan dan dugaan “skenario lepas tangan”, masyarakat kini menagih ketegasan serta independensi Inspektorat Daerah Kabupaten Tanggamus untuk mengusut tuntas indikasi penyelewengan anggaran yang mencapai ratusan juta rupiah tersebut.
Merespons gejolak publik, instansi pengawas internal pemerintah ini memastikan bakal segera memanggil Kepala Pekon (Kakon) Hj. Faiqoturrohmah, S.Pd., bersama seluruh jajaran pengurus BUMDes Pekon Kacapura kecamatan semaka kabupaten Tanggamus
Sekretaris Inspektorat Daerah Kabupaten Tanggamus, Gustam Apriansyah, yang didampingi Plh Irban II Madsunawar, secara tegas menyatakan komitmennya untuk mengurai polemik ini secara mendalam dan objektif.
“Inspektorat akan segera memanggil Dirut dan pengurus BUMDes, dan tentunya Kepala Pekon, untuk diminta keterangan atau klarifikasi,” ujar Gustam saat memberikan keterangan resmi di ruang kerjanya, Selasa (4/8/2026).
Pemicu Geram Warga: Skenario Pasang Badan dan Alibi Cuaca
Keputusan Inspektorat ini bergulir pasca-sesi klarifikasi di kediaman Kakon Hj. Faiqoturrohmah, S.Pd., pada Rabu (29/7) yang dinilai warga penuh skenario. Dalam pertemuan yang turut dihadiri Ketua BUMDes Edi dan Bendahara Vivi (VH) tersebut, Faiqoturrohmah mulanya mengaku menyerahkan operasional BUMDes secara keseluruhan. Namun, saat disodorkan pertanyaan teknis pertanggung jawaban anggaran, Kakon justru pasang badan dan mendikte jawaban pengurus.
Kejanggalan ini memperkuat fakta lapangan pada Selasa (28/7), di mana fasilitas kandang program ketahanan pangan TA 2025 bernilai Rp200 juta yang menyerap angaran dana awal, ditemukan kandang kosong melompong. Pengurus berdalih ternak mati akibat “faktor cuaca” tanpa mampu menunjukkan Berita Acara Kematian hewan yang sah.
Dugaan Penyalahgunaan Aset dan Desakan Warga
Persoalan kian meruncing seiring menguapnya modal awal, dugaan “bendahara boneka”, hingga penyalahgunaan kendaraan operasional BUMDes yang disinyalir diserobot untuk bisnis komersial pribadi keluarga bendahara.
“Kami sudah gemes melihat kenyataannya. Kami ingin uang desa dipakai untuk usaha nyata yang ada hasilnya buat warga, bukan seperti ‘uang siluman’ yang masuk ke kepentingan pribadi sekelompok orang saja,” cetus salah seorang warga Pekon Kacapura dengan nada kesal.
Masyarakat Pekon Kacapura kini menaruh tumpuan penuh pada pemanggilan oleh Inspektorat Tanggamus pada Selasa (4/8) ini. Warga mendesak dilakukannya audit forensik terhadap rekening kas BUMDes serta penyitaan aset desa yang dikuasai secara sepihak guna mengusut tuntas indikasi penyelewengan anggaran.
 ( Tim )

Continue Reading

Tanggamus

Terungkap! BUMDes Kacapura Main Sulap: Rp200 Juta Menghilang, Kandang Kosong, Cuaca Ternak Alamat ke Surga*

Published

on

By

Tanggamus  DNL – Di Pekon Kacapura, Kecamatan Semaka, ada satu ilmu baru yang sedang viral: “Ilmu Menghilang”. Korbannya? Dana BUMDes Berdikari senilai Rp200 juta. Sisa-sisanya? Kandang kosong dan alibi klasik, meninggal karena cuaca, Minggu (1/8/2026).
Drama klarifikasi pada Rabu (29/7) di kediaman Kepala Pekon Faiqoturrohmah, S.Pd., seharusnya jadi ajang menjawab. Hadir lengkap, Ketua BUMDes Edi dan Bendahara Vivi. Agendanya satu, menjelaskan ke mana larinya uang ketahanan pangan dan modal awal usaha.
Tapi plot twist. Di awal, Kakon dengan gagah bilang: “Ini urusan pengurus, saya lepas tangan”. Giliran ditanya teknis soal bon, nota, dan bukti ternak, tiba-tiba mikrofon berpindah. Kakon yang jawab. Ketua dan Bendahara? Kebagian jadi figuran.
Setelah panggung klarifikasi usai, panggung warga dimulai. Dan ini lebih “mengemaskan”.
Menurut kesaksian warga, Vivi si Bendahara 2 periode ini posisinya unik. Saat ada kamera dan surat, dia yang tanda tangan. Saat ditanya aset, dia bilang “punya saya, modal pribadi”.
“Dugaan kami simpel, Bu Vivi ini ATM berjalan. Kalau Kakon butuh dana, tinggal gesek dari kas BUMDes. Nggak pakai prosedur, nggak pakai ribet. Cair,” sindir narasumber yang tak mau disebut namanya.
Belum cukup. Aset desa berupa kendaraan TOSA yang dibeli pakai uang desa, kini nasibnya tragis. Bukan untuk BUMDes. Tapi jadi “ojek pribadi” keluarga Vivi. Jobdesk-nya padat: ngurus sapi, angkut pasir, angkut besi, sampai jadi kurir galon usaha. Ditanya kepemilikan? Jawabannya ikut cuaca. Hari ini milik desa, besok milik pribadi.
Soal kambing dan bebek yang mati massal? Alasannya satu: “faktor cuaca”. Sayangnya, Berita Acara kematiannya ikut mati. Dokumentasi asetnya juga ikut menguap. Yang tersisa cuma keyakinan.
Warga sudah capek jadi penonton sulap.
“Kami gemas. Uang desa itu buat usaha, buat SHU warga. Bukan buat jadi siluman, main petak umpet di rekening orang,” ucapnya kesal.
Kini warga tidak butuh klarifikasi lagi. Yang dibutuhkan. Inspektorat Tanggamus dan APH. Tolong diaudit. Mulai dari aliran dana, nota pembelian, sampai kilometer TOSA yang tiap hari wara-wiri. Sebelum buktinya ikut “meninggal karena cuaca” juga.
Catatan Redaksi tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Kami membuka ruang selebar-lebarnya bagi Kakon Faiqoturrohmah, Ketua BUMDes Edi, Bendahara Vivi, dan pihak terkait untuk menunjukkan bukti. Bukan sulap. Tapi dokumen.( TIM )

Continue Reading

Trending