Lampung Selatan, dailynewslampung – Menjelang senja yang turun perlahan di Kecamatan Katibung, sebuah jalan yang lama terluka akhirnya bernafas lega. Aspal hitam yang dulu berlubang, bergelombang, dan penuh keluhan, kini terbentang rapi menjadi saksi perubahan yang ditunggu bertahun-tahun oleh warga Babatan hingga Umbul Bayur.
Tepat Jumat sore (27/2/2026), pukul 17.32 WIB, Radityo Egi Pratama berdiri di hadapan warga. Dengan basmalah yang lirih namun sarat makna, ia meresmikan peningkatan ruas Jalan Babatan–Simpang Bayur sepanjang kurang lebih 850 meter, bagian dari konektivitas Babatan–Umbul Bayur hingga Tanjungan–Neglasari. Sebuah akses yang bukan sekadar jalur kendaraan, melainkan nadi kehidupan harian masyarakat.
“Alhamdulillah, hari ini di hari Jumat pukul 17.32, ruas jalan Babatan–Simpang Bayur sudah selesai dikerjakan. Bismillah, semoga memberi dampak baik dan manfaat yang berkelanjutan,” ucap Egi. Kalimatnya mengalir sederhana, namun menyentuh harapan banyak keluarga yang selama ini harus berjibaku dengan jalan rusak.
Sebelum diperbaiki, jalan ini seperti cerita lama yang tak kunjung tamat. Bertahun-tahun berlubang, makin parah dalam tiga hingga empat bulan terakhir. Pengendara roda dua kerap menghindar, roda empat melambat dengan waswas. Aktivitas warga—pergi bekerja, mengantar anak sekolah, hingga membawa hasil kebun—sering tertahan oleh genangan dan guncangan.
Di antara kerumunan, Desi (40) tak menyembunyikan rasa syukurnya. Senyumnya merekah, suaranya bergetar ringan.
“Terima kasih Pak Bupati Egi. Jalannya sekarang bagus sekali. Dulu rusak berlubang bertahun-tahun, sekarang lewat jadi enak,” katanya.
Bagi Desi, jalan mulus ini bukan hanya kenyamanan, melainkan kelegaan—tentang waktu tempuh yang lebih singkat dan rasa aman yang kembali.
Perubahan itu dirasakan banyak warga. Jalan yang lebih rata membuat mobilitas lebih lancar, risiko kecelakaan berkurang, dan aktivitas ekonomi kecil kembali bergerak.
Namun, di balik rasa syukur, ada harapan yang disampaikan dengan jujur. Beberapa warga mengeluhkan drainase dan talud yang belum memadai. Saat hujan deras, genangan bahkan banjir masih kerap datang.
“Ada satu keluhan, kalau hujan deras banjir. Got-got ini tolong diperbaiki supaya airnya lancar. Kami minta solusi untuk masyarakat Tanjung Ratu,” ujar seorang warga, menyampaikan aspirasi dengan nada berharap.
Menanggapi itu, Egi mengajak warga menjaga bersama aset yang telah dibangun, sembari memastikan masukan masyarakat menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Dengan bismillahirrahmanirrahim, jalannya saya resmikan. Tolong dijaga bersama-sama supaya awet dan panjang umurnya. Titip aset ini,” pesannya.
Kini, di Katibung, jalan itu bukan lagi sekadar bentangan aspal. Ia menjadi simbol hadirnya negara di kebutuhan paling dekat dengan rakyat, akses yang menghubungkan rumah ke ladang, sekolah ke pasar, dan harapan ke masa depan.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap, peningkatan ruas jalan ini tak hanya memperlancar mobilitas, tetapi juga memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong denyut ekonomi lokal yang lebih hidup. (Red)