Connect with us

Tanggamus

Dari Tumpukan Sampah ke Kantin Impian: Langkah Nyata SMAN 1 Semaka Menuju Lingkungan Belajar yang Berseri

Published

on

Tanggamus , DNL : Sebuah semangat kebersamaan dan tanggung jawab yang patut diacungi jempol kini menyelimuti SMAN 1 Semaka. Gerak cepat penuh inisiatif dan tanggung jawab, sebuah langkah yang menggetarkan, Kepala Sekolah bersama para dewan guru telah membuktikan bahwa pendidikan sejati melampaui batas ruang kelas.
Mereka bergerak serentak membersihkan tumpukan sampah yang selama ini “mencoreng” sudut sekolah, kini telah raib, menandai dimulainya babak baru penataan lingkungan demi kenyamanan dan kesehatan belajar para siswa menjadi bukti nyata keseriusan pihak sekolah.
Keindahan sebuah institusi pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademis, namun juga dari lingkungan yang bersih dan mendukung. Itulah semangat yang kini diemban oleh SMAN 1 Semaka, beranjak dari sebuah kritik membangun.
Keberadaan tumpukan sampah yang dilaporkan sempat menimbulkan aroma tak sedap dan mengganggu kenyamanan belajar, kini hanya tinggal cerita. Dalam hitungan waktu yang singkat, area tersebut telah bersih, dengan sampah terbungkus rapi dalam karung-karung siap angkut. Ini adalah gambaran nyata dari keteladanan kepemimpinan dan dedikasi pengajar yang tak hanya fokus pada kurikulum, tetapi juga pada pembentukan karakter dan lingkungan hidup yang baik bagi peserta didiknya.
*Merespons Kritik dengan Hati yang Terbuka*
Aksi pembersihan ini bukan sekadar respons, melainkan manifestasi dari jiwa besar untuk menerima masukan. Sebagaimana telah diwartakan sebelumnya, penumpukan sampah di pojok sekolah ini menimbulkan aroma yang tidak sedap, sangat mengganggu suasana kegiatan belajar mengajar (KBM).
Imam, Wakil Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) SMAN 1 Semaka, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kritik yang masuk.
“Saya mewakili Bapak Kepala Sekolah, menyampaikan terima kasih yang tulus atas kritikan yang sifatnya membangun ini. Saran dan masukan yang konstruktif tentunya sangat kami harapkan. Ini adalah bukti bahwa masyarakat peduli dan kami siap berbenah,” jelas Waka Sarpras dengan nada penuh rasa syukur. (8/10/2025)
Pernyataan ini menunjukkan sikap akurat dan berimbang sekolah dalam menghadapi isu, mengubahnya dari potensi polemik menjadi momentum perbaikan yang solid.
*Transformasi Lokasi Sampah Menjadi ‘Jantung’ Sekolah*
Inisiatif kepemimpinan Kepala Sekolah dan guru tidak berhenti pada pembersihan. Mereka telah merancang masa depan yang menjanjikan untuk lokasi yang sebelumnya kusam tersebut.
“Saat ini kami memang lagi berbenah dan penataan untuk perbaikan demi kemajuan sekolah kita. Ke depannya, yang tadinya lokasi tempat pembuangan sampah itu, rencananya akan kami sulap menjadi kantin baru,” paparnya.
Rencana ini adalah lompatan visioner. Lokasi yang sebelumnya menjadi sumber ketidak nyamanan akan diubah menjadi pusat interaksi yang menyehatkan bagi siswa. Kantin lama akan ditata ulang dan dirapihkan lagi, memastikan setiap sudut sekolah memancarkan kebersihan dan kenyamanan. Inisiatif ini memancarkan optimisme bahwa SMAN 1 Semaka sedang bergerak maju, meletakkan fondasi yang lebih kuat untuk masa depan yang gemilang.
Langkah ini menegaskan bahwa Kepala Sekolah dan guru di SMAN 1 Semaka tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersihan dan perencanaan jangka panjang kepada siswanya.
Ini adalah cerita faktual tentang bagaimana kepemimpinan yang independen dan proaktif dapat mengubah tantangan menjadi peluang, menginspirasi semua pihak untuk mewujudkan lingkungan belajar yang benar-benar memikat dan berbudaya bersih, menjadikannya rumah kedua yang sehat dan inspiratif bagi seluruh aktivitas akademika.( Rizal)

Tanggamus

Dana Rp200 Juta BUMDes Kacapura Dipertanyakan, Inspektorat Mulai Proses Klarifikasi

Published

on

By

TANGGAMUS — DNL: Kebenaran takkan pernah tersembunyi selamanya. Polemik pengelolaan BUMDes Berdikari Pekon Kacapura, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, kini memasuki babak penegakan keadilan. Pada Selasa, 11 Agustus 2026, Ketua BUMDes berinisial E, Bendahara VH, bersama Kepala Pekon Kacapura berinisial F, resmi dipanggil Inspektorat Kabupaten Tanggamus untuk menjalani klarifikasi.

Pemanggilan ini bukan tanpa alasan. Sorotan tajam masyarakat tertuju pada penggunaan modal penyertaan sebesar Rp200 juta yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025. Dana itu dipercayakan bukan untuk diamankan, melainkan dikembangkan menjadi usaha yang produktif — agar rakyat merasakan manfaatnya secara nyata. Namun nyatanya, setelah nyaris satu tahun berlalu, harapan itu belum terwujud. Usaha yang dijalankan belum menunjukkan hasil, manfaat belum terasa, dan pertanyaan publik semakin menguat: Ke mana sebenarnya uang rakyat itu mengalir?

Sekretaris Inspektorat Kabupaten Tanggamus, Gustam Apriansyah, membenarkan proses tersebut. “Proses klarifikasi baru sebatas dokumen administratif,” ujarnya tegas. Meski demikian, pintu pemeriksaan mendalam tetap terbuka. Jika ditemukan ketidaksesuaian, proses ini dapat berkembang menjadi investigasi yang lebih serius — karena akuntabilitas adalah harga mati dalam pengelolaan uang rakyat.

“Kepercayaan rakyat adalah amanah, bukan peluang. Jika dikelola dengan jujur, tumbuh kesejahteraan. Jika disalahgunakan, muncul kebenaran yang membongkar segalanya.”

Tahap ini baru permulaan. Inspektorat berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap realisasi anggaran Dana Desa, termasuk kondisi aset, perkembangan usaha, dan pertanggungjawaban dana yang telah disalurkan. Masyarakat berhak tahu: apakah Rp200 juta itu dikelola sebagaimana mestinya, atau justru terserap tanpa jejak yang jelas.

Hingga berita ini diturunkan, proses klarifikasi masih berlangsung. Belum ada kesimpulan resmi. Namun satu hal yang pasti: kebenaran akan terungkap. Dan yang jujur tak perlu takut diperiksa — karena yang ditakuti hanya mereka yang menyembunyikan kenyataan.

Publik kini menunggu hasil. Karena setiap rupiah uang rakyat, wajib ada pertanggungjawaban yang terang, bersih, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tak ada tempat bersembunyi bagi ketidakjujuran di mata masyarakat yang mulai sadar.

(Tim )

Continue Reading

Tanggamus

DUGAAN ANGGARAN PROGRES KDMP TANGGAMUS DISOROT TAJAM DAN BERMASALAH

Published

on

By

TANGGAMUS DNL – Pelaksanaan Program Strategis Nasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Tanggamus diterpa gelombang kritik. Tak hanya diwarnai indikasi penyimpangan prosedur administrative dan pemangkasan dana, pembangunan fisik gerai di lapangan juga ditemukan bermasalah dan dinilai jauh dari standar keselamatan.
Salah satu lokasi yang memicu keprihatinan publik berada di Pekon Tulung Sari, Kecamatan Bandar Negeri Semuong, di samping beberapa pekon lainnya yang sempat terekspos di berbagai media massa. Bangunan KDMP yang belum diresmikan tersebut berdiri di kawasan berkontur curam tepat di tepi jurang.
Pantauan di lokasi menunjukkan konstruksi yang memprihatinkan, dinding mulai tampak retak, sisa material belum dirapikan, serta tangki pembuangan WC dibangun terpisah persis di sisi lereng yang rawan longsor.
Kondisi fisik yang buruk ini berbanding terbalik dengan besarnya anggaran yang dialokasikan negara. Secara nasional, biaya pembangunan fisik satu gerai KDMP mencapai Rp1,658 miliar, bahkan batas maksimal pembiayaan berdasarkan PMK Nomor 15 Tahun 2026 dapat mencapai hingga Rp3 miliar per unit.
Namun, fakta di lapangan mengindikasikan adanya celah penyimpangan anggaran yang fatal. Sumber internal menyebutkan bahwa pemborong di Pekon Tulung Sari diduga hanya menerima dana sekitar Rp850 juta hingga Rp900 juta untuk menyelesaikan fisik bangunan.
“Secara logika tidak ada orang yang mau bekerja lalu dananya dipotong-potong. Tapi faktanya terjadi intervensi dan tekanan. Nilai anggaran misalnya tertulis Rp80 juta, yang cair ke pelaksana hanya Rp75 juta, bahkan ada yang jauh lebih kecil karena dipotong berkali-kali,” ujar sumber terpercaya, Rabu (29/4/2026) lalu. Akibatnya, banyak kontraktor terpaksa menyunat kualitas material atau membiarkan proyek mangkrak karena kehabisan dana.
Sistem Kontrol Lumpuh dan Pengabaian Otoritas Lokal
Carut-marutnya eksekusi program ini dinilai terjadi akibat diabaikannya jalur birokrasi legal. Pihak kecamatan yang memegang kewenangan agraria dan pengawasan wilayah justru sama sekali tidak dilibatkan.
“Camat maupun Sekcam tidak tahu-menahu soal lokasi maupun detail pembangunan, padahal mereka tercatat sebagai satgas pengawas. Yang seharusnya menjadi fungsi kontrol malah saling menutupi karena ada kepentingan ekonomi,” tegas sumber tersebut.
Kritik ini sejalan dengan suara aktivis lokal yang menyoroti matinya fungsi pengawasan. Oknum-oknum yang terlibat diduga kerap mencatut nama institusi atau program nasional untuk membentengi praktik jual-beli proyek demi keuntungan pribadi, sehingga mengorbankan kualitas fasilitas publik yang sejatinya ditujukan untuk menekan inflasi desa.
Masyarakat kini mendesak adanya transparansi anggaran (RAB/BOQ), evaluasi teknis terhadap keamanan lokasi bangunan yang berdiri di dekat lereng curam, serta perbaikan menyeluruh atas bagian gedung yang retak sebelum diresmikan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan maupun klarifikasi resmi dari semua lini, baik pihak berkepentingan, pelaksana pekerjaan, maupun instansi terkait. Redaksi tetap membuka ruang konfirmasi seluas-luasnya bagi pihak-pihak terkait sebagai bentuk perimbangan berita dan penegakan asas praduga tak bersalah.
Publik mendesak aparat penegak hukum dan instansi berwenang segera turun tangan melakukan penelaahan serta evaluasi secara obyektif untuk mengusut tuntas indikasi pelanggaran prosedur dalam program KDMP di Kabupaten Tanggamus.( Tim )

Continue Reading

Tanggamus

Semangat Tak Tergoyahkan: Ameera Zoya Widya Ikut Meriahkan Karnaval HUT RI ke-81 di Wonosobo

Published

on

By

TANGGAMUS – DNL: — Cahaya semangat kemerdekaan tampak bersinar cerah dari mata seorang putri kecil bernama Ameera Zoya Widya, yang berasal dari Pekon Banjar Sari, Kecamatan Wonosobo. Ia turut serta memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 di wilayah Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Selasa 18/8/2026
Berdiri tegap di tengah riuh kegembiraan karnaval keliling, Ameera Zoya Widya tampak melangkah penuh semangat, didampingi dengan penuh kasih sayang oleh mamanya. Kegiatan yang penuh makna ini dimulai dari titik kumpul di Lapangan Siring Betik, kemudian berlanjut berkeliling wilayah kecamatan bersama rombongan karnaval lainnya yang penuh warna dan kegembiraan.
Meski usianya baru menginjak lima tahun, semangat yang membara di dada Ameera sungguh luar biasa dan patut diacungi jempol. Bahkan ketika kondisi fisiknya sedang kurang bugar, niat tulusnya untuk ikut serta merayakan kemerdekaan bersama teman-temannya tak luntur sedikit pun.
Dengan nada lembut namun penuh kebanggaan dan haru, mama Ameera menceritakan keteguhan hati putri kesayangannya:
“Ameera anakku, walau badannya sedang kurang fit, ia tetap bersikeras ingin ikut karnaval. Anakku tidak mau tertinggal dari teman-temannya. Padahal ia masih berusia lima tahun, namun semangat cintanya pada kemerdekaan dan keinginan bersatu dengan kawan-kawan sungguh luar biasa membara di hatinya,” ungkap mama Ameera dengan mata berkaca-kaca penuh rasa bangga.
Kisah kecil Ameera Zoya Widya menjadi pengingat yang indah dan bermakna: cinta tanah air dan semangat kebersamaan tak mengenal usia. Di dalam dada yang masih muda itu, telah tertanam benih-benih kasih kepada tanah air yang kelak akan tumbuh menjadi pohon kebanggaan yang rindang, menjulang setinggi cita-cita luhur bangsa Indonesia.
(Widuri)

Continue Reading

Trending