Lampung Selatan, DNL – Sore itu, mentari yang condong ke barat menebar cahaya jingga ke hamparan Kalianda. Angin berhembus lembut dari arah Gunung Rajabasa, seakan membawa kabar baik bagi warga.
Di tengah langit yang mulai berwarna tembaga, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama meresmikan ruas jalan Simpang Tugu Radin Intan–Exit Toll Kalianda (R.077), Selasa (26/8/2025).
Dengan sepeda motor, Bupati Egi membonceng Wakil Bupati M. Syaiful Anwar. Mereka menyusuri jalan cor beton sepanjang 1,7 kilometer yang baru saja rampung dari APBD. Bukan sekadar uji coba, tetapi juga simbol bahwa jalan ini dibangun untuk dilalui siapa saja, dengan langkah sederhana dan penuh makna.
Di sepanjang sisi jalan, masyarakat menyambut penuh hangat. Anak-anak berlarian, melambaikan tangan, seolah bangga bahwa kampung mereka kini memiliki jalan baru. Beberapa pedagang kecil membuka lapak dadakan, menjajakan es kelapa muda dan gorengan, berharap arus kendaraan yang lewat kelak membawa rezeki lebih ramai.
Sumiati (47), seorang ibu rumah tangga yang rumahnya tak jauh dari jalan baru itu, tak kuasa menyembunyikan rasa syukur.
“Dulu kalau hujan becek, kalau panas debunya luar biasa. Sekarang kami tidak perlu lagi was-was kalau anak-anak berangkat sekolah. Jalan ini benar-benar meringankan,” ujarnya, matanya berbinar.
Di tengah keramaian, spanduk ucapan terima kasih terbentang lebar, sementara teriakan “Lampung Selatan, Bismillah Bisa!” menggema. Itu bukan sekadar slogan, melainkan doa yang lahir dari hati rakyat.
Usai menandatangani prasasti, Bupati Egi menuturkan bahwa jalan ini bukan hanya infrastruktur, tapi juga ruang yang membuka pemandangan dan peluang baru.
“Hari ini tidak hanya meresmikan ruas jalan, tapi kita menemukan sebuah potensi keindahan alam. Silakan, kawan-kawan bisa mencobanya. Dari titik ini, hanya 500 meter ke depan, terbentang perkebunan dengan latar Gunung Rajabasa. Saat sore, cahaya matahari menambah suasana indah. Ke depan, jalan ini bisa jadi spot menarik bagi masyarakat,” katanya.
Bagi warga, potensi itu bukan sekadar panorama. Mereka membayangkan jalan baru ini akan memudahkan akses hasil bumi, menghidupkan pedagang kecil, hingga menarik wisatawan yang ingin menikmati indahnya Rajabasa dari dekat.
Namun Bupati Egi juga mengingatkan, pembangunan hanya akan berarti bila dijaga bersama.
“Mari kita rawat apa yang sudah terbangun ini. Jalan yang kokoh akan membawa manfaat besar jika dipelihara, sekaligus menjaga lingkungan yang menjadi rumah kita bersama,” pesannya.
Senja makin merunduk, cahaya matahari memantul di permukaan jalan baru. Di atasnya, harapan-harapan warga menyatu dengan langkah pembangunan. Jalan itu kini bukan sekadar beton yang memanjang, melainkan lorong kehidupan menghubungkan desa dan kota, pemimpin dan rakyat, juga mimpi dan kenyataan. (Red)