Connect with us

Featured

Dari Swadaya Warga, Semangat Kemerdekaan Menggema di Grand Esha 1

Published

on

Pesawaran,Dailynewslampung.com– Kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan kemeriahan yang mewah. Di Perumahan Grand Esha 1, Kelurahan Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, semangat kemerdekaan justru tumbuh dari kebersamaan dan gotong royong warga.

Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2026, warga Grand Esha 1 bahu-membahu menyiapkan berbagai kegiatan untuk memeriahkan bulan kemerdekaan.

Seluruh rangkaian kegiatan digelar secara swadaya. Warga secara sukarela mengumpulkan dana sekaligus mengambil bagian dalam persiapan, mulai dari membersihkan lapangan, memasang umbul-umbul hingga menyiapkan berbagai perlombaan.

Lapangan yang sebelumnya menjadi ruang aktivitas sehari-hari pun berubah menjadi pusat keceriaan. Tawa anak-anak, sorak-sorai warga dan semangat para peserta lomba berpadu menciptakan suasana penuh keakraban.

Beragam perlombaan digelar, mulai dari badminton, tarik tambang dan bola voli hingga permainan khas perayaan kemerdekaan untuk anak-anak, seperti balap karung dan lomba makan kerupuk.

Tidak hanya anak-anak, orang tua dan warga dari berbagai usia juga turut ambil bagian. Masing-masing hadir bukan sekadar untuk memenangkan perlombaan, tetapi menikmati momen berkumpul dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Suasana semakin meriah dengan hiburan musik dan pembagian doorprize. Meski digelar secara sederhana, seluruh rangkaian acara terasa istimewa karena lahir dari kepedulian dan partisipasi bersama.

Bagi warga Grand Esha 1, perayaan kemerdekaan menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Dari lingkungan perumahan, semangat nasionalisme pun tumbuh. Kebersamaan warga menjadi bukti bahwa kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara sederhana, selama ada persatuan, kepedulian dan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan suasana penuh kegembiraan. Senyum dan tawa warga menjadi gambaran sederhana tentang makna kemerdekaan: hidup rukun, saling membantu dan merayakan kebahagiaan bersama.

Dari Grand Esha 1, pesan kemerdekaan itu kembali terasa—bahwa Indonesia yang kuat berawal dari masyarakat yang bersatu dan peduli satu sama lain.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.(Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Featured

19 Tahun Menanti, Jalan Baru Ranji Dipastikan Diperbaiki Tahun Ini

Published

on

Lampung Selatan,Dailynewslampung.– Penantian panjang warga Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram, untuk mendapatkan akses jalan yang layak akhirnya menemui titik terang. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan memastikan ruas jalan penghubung Desa Tanjung Baru–Desa Baru Ranji akan diperbaiki pada 2026.

Kepastian itu disampaikan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama setelah meninjau langsung kondisi jalan tersebut saat melakukan kunjungan ke Desa HELAU di Kecamatan Merbau Mataram, Sabtu (8/8/2026).

Bupati Egi mengakui kondisi jalan yang menjadi akses penting bagi masyarakat itu sudah memprihatinkan. Kerusakan jalan bahkan dinilai cukup parah sehingga membutuhkan penanganan segera.

“Saya selaku bupati menghaturkan permintaan maaf kalau jalannya belum bagus. 30 persen rusak, 70 persen rusak banget,” ujar Egi saat melihat kondisi jalan.

Melihat langsung kondisi di lapangan, Egi menegaskan penanganan infrastruktur tidak cukup hanya berdasarkan laporan. Ia pun langsung meminta agar ruas jalan menuju Desa Baru Ranji masuk dalam agenda perbaikan tahun ini.

“Saya minta perbaiki jalan Baru Ranji. Ini saya kalau nggak ke sini, nggak ngerti kalau jalannya begitu,” tegasnya.

Ruas jalan tersebut selama ini menjadi akses penting bagi masyarakat, baik untuk menunjang aktivitas sehari-hari maupun menghubungkan mobilitas warga antara Desa Tanjung Baru dan Desa Baru Ranji.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lampung Selatan Hendry Kurniawan mengatakan, arahan Bupati Egi langsung ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.

Menurutnya, ruas jalan penghubung kedua desa tersebut akan mendapatkan penanganan pada tahun anggaran 2026.

“Tidak perlu berpikir lama. Bupati Lampung Selatan langsung menindaklanjuti, dan jalan penghubung kedua desa tersebut akan diperbaiki pada tahun 2026 ini,” kata Hendry.

Ia menyebut, keputusan tersebut menunjukkan respons cepat pemerintah daerah dalam menyerap aspirasi masyarakat, khususnya menyangkut kebutuhan infrastruktur dasar.

Perbaikan jalan diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan kenyamanan warga sekaligus memperlancar distribusi barang, aktivitas ekonomi, serta konektivitas antarwilayah di Kecamatan Merbau Mataram.

“Ini merupakan bentuk gerak cepat dan penyerapan aspirasi masyarakat dari Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk keberlangsungan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dengan kepastian perbaikan tersebut, penantian panjang warga selama 19 tahun untuk mendapatkan akses jalan yang lebih layak diharapkan segera berakhir.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga menegaskan komitmennya untuk memperluas pemerataan pembangunan infrastruktur hingga ke wilayah perdesaan, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.(Red)

 

Continue Reading

Featured

Harbour Fest 2026 Usai, Bakauheni Mulai Menjawab Tantangan: Tak Sekadar Gerbang, tapi Beranda Sumatra

Published

on

Lampung selatan,Dailynewslampung.com — Malam itu, Bakauheni tidak sedang sekadar menjadi tempat orang turun dari kapal.Ribuan orang justru memilih berhenti.

Di kawasan Amphitheatre Menara Siger, Bakauheni Harbour City (BHC), Sabtu malam (8/8/2026), kerumunan manusia memenuhi ruang-ruang di sekitar panggung. Musik menggema, lampu pertunjukan menyala, dan ribuan pengunjung larut dalam kemeriahan malam penutupan Harbour Fest 2026.

Di balik riuh penonton, ada pedagang yang sibuk melayani pembeli. Ada aroma kuliner yang menguar dari lapak UMKM. Ada produk kerajinan dan usaha kreatif lokal yang mendapatkan perhatian dari pengunjung.

Bahkan, sejumlah pelaku UMKM mengaku dagangan mereka ludes terjual selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Sebuah festival tidak lagi sekadar tentang siapa yang tampil di panggung dan berapa banyak orang yang datang. Lebih jauh, ada pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah orang-orang itu datang.

Harbour Fest 2026 mempertemukan musik, kuliner, UMKM, komunitas kreatif, dan masyarakat dalam satu ruang. Festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Road to Festival Krakatau 2026.

Panggung utama semakin meriah dengan penampilan Threesixty, Gilga Sahid, Guyon Waton, dan Kotak.

Nama-nama besar itu memang menjadi magnet. Tetapi di luar panggung, ratusan aktivitas kecil berlangsung bersamaan.

Pengunjung membeli makanan. Mencicipi produk lokal. Berbelanja. Berinteraksi dengan pelaku usaha. Menghabiskan waktu lebih lama di kawasan wisata.

Bagi UMKM, kehadiran ribuan orang berarti kesempatan memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.

Bagi kawasan wisata, keramaian berarti pengalaman baru bagi pengunjung.

Dan bagi pemerintah daerah, momentum tersebut menjadi gambaran bahwa event pariwisata dapat dirancang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai penggerak ekonomi lokal.Dari Gerbang Menjadi Beranda.

Bagi Lampung Selatan, perubahan paling penting justru terletak pada cara memandang Bakauheni.

Selama puluhan tahun, nama Bakauheni identik dengan pelabuhan dan lalu lintas penyeberangan. Orang datang, turun dari kapal, lalu melanjutkan perjalanan.Bakauheni adalah gerbang.

Tetapi Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan ingin cerita itu berubah.

Bakauheni diharapkan menjadi tempat orang berhenti. Menikmati suasana. Mencari pengalaman. Menyantap kuliner. Membeli produk lokal. Bahkan menginap dan kembali lagi.

 

Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menyebut arah tersebut sebagai upaya mengubah Lampung Selatan dari “Gerbang Sumatra” menjadi “Beranda Sumatra”.

“Lampung Selatan hari ini ingin mengubah nasibnya, tidak lagi menjadi Gerbang Sumatra, tetapi ingin menjadi Beranda Sumatra. Karena gerbang nasibnya hanya dilewati, tidak pernah disinggahi. Kami ingin banyak wisatawan yang singgah di Lampung Selatan,” ujar Egi.

Di baliknya ada gagasan bahwa wisatawan harus memiliki alasan untuk berhenti lebih lama di Lampung Selatan.

Sebab, semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar peluang uang mereka berputar di tengah masyarakat.

Mereka makan di warung lokal. Membeli oleh-oleh. Menggunakan jasa masyarakat. Mengunjungi destinasi. Mengikuti kegiatan. Dan pada akhirnya menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang.

Pariwisata yang Tidak Berhenti di Spot Foto,Pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun tempat yang indah.

Destinasi membutuhkan cerita. Event membutuhkan konsistensi. Dan wisatawan membutuhkan pengalaman

Kawasan Bakauheni menjadi panggung besarnya. Musik menjadi magnetnya. UMKM menjadi bagian dari pengalamannya. Sementara masyarakat menjadi salah satu penerima manfaatnya.

Melalui Program HELAU—Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul—Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mendorong agar berbagai kegiatan publik memiliki dampak yang lebih luas.

Event tidak berhenti ketika panggung selesai.Dampaknya diharapkan terus bergerak melalui promosi produk lokal, perluasan pasar UMKM, pertumbuhan ekonomi kreatif, dan meningkatnya daya tarik kawasan wisata.

Tema Harbour Fest 2026, “Jembatan Tradisi, Gerbang Inovasi Menuju Indonesia Emas”, menjadi penanda bahwa pengembangan kawasan tidak hanya berbicara soal infrastruktur.

Ada tradisi yang harus dirawat.Ada kreativitas yang harus diberi ruang.Dan ada ekonomi masyarakat yang harus ikut tumbuh.

Bupati Egi menilai Harbour Fest 2026 mampu memanfaatkan posisi strategis kawasan Bakauheni sekaligus menghadirkan pengalaman bagi masyarakat dan wisatawan.

“Saya ucapkan selamat menikmati acara hari ini. Harbour Fest 2026 adalah salah satu event terbaik di tempat terbaik di Lampung, khususnya di Lampung Selatan,” kata Egi.

Lampu panggung perlahan padam. Musik berhenti. Kerumunan mulai meninggalkan Amphitheatre Menara Siger.

Tetapi bagi Bakauheni, malam itu meninggalkan sesuatu yang lebih penting dari sekadar kemeriahan.Ada UMKM yang memperoleh pasar.Ada produk lokal yang semakin dikenal.Ada wisatawan yang mendapatkan pengalaman. Dan ada sebuah kawasan yang perlahan menunjukkan wajah barunya.Bakauheni sedang mencoba mengubah peran.

Dari tempat orang sekadar lewat, menjadi tempat orang ingin berhenti.

Dari gerbang yang hanya membuka jalan menuju Sumatra, menjadi beranda yang menyambut siapa saja untuk tinggal sejenak.

Tetapi jika geliat UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif terus dipelihara, maka cerita tentang Bakauheni sebagai Beranda Sumatra baru saja dimulai.(Red)

Continue Reading

Featured

Cabor Catur PWI Lampung Panaskan Mesin Menuju Porwanas 2027

Published

on

Bandar Lampung, Dailynewslampung.com— Tim catur PWI Lampung mulai memanaskan mesin persiapan menuju Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2027. Uji tanding digelar melalui turnamen mini catur cepat dengan durasi 10 menit per pertandingan di Gedung PWI Lampung, Minggu (9/8/2026).

Uji tanding tersebut mempertemukan atlet catur PWI Lampung dengan sejumlah pecatur lokal, di antaranya Alfanza, Lukman Ginting, dan Bustanul. Selain mengukur kemampuan teknis, pertandingan ini menjadi ajang untuk membangun mental dan ketenangan atlet menghadapi atmosfer kompetisi sesungguhnya.

Manajer Cabang Olahraga (Cabor) Catur PWI Lampung, Bey Sujarwo, mengatakan kehadiran lawan tanding dari luar tim merupakan bagian dari strategi untuk memetakan kekuatan sekaligus meningkatkan kualitas permainan para atlet.

“Hari ini kita menggelar pelatihan sebagai wujud nyata keseriusan dalam menghadapi Porwanas. Melalui pelatihan ini, kita berharap para atlet semakin terbiasa dengan suasana pertandingan, sehingga saat Porwanas nanti mereka lebih siap secara teknis maupun mental,” ujar Bey.

Menurutnya, uji tanding secara rutin penting dilakukan agar atlet tidak hanya mengandalkan latihan internal. Tekanan pertandingan dengan lawan yang berbeda dinilai dapat menguji kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Langkah tersebut juga sejalan dengan strategi PWI Lampung yang mendorong seluruh cabang olahraga untuk menggelar uji tanding secara berkelanjutan sebagai bagian dari persiapan menuju Porwanas 2027.

Sebagai tuan rumah Porwanas 2027, PWI Lampung menargetkan persiapan matang di seluruh cabang olahraga. Simulasi pertandingan dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun kesiapan teknis, fisik, dan mental atlet.

Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, menegaskan latihan teknis harus diimbangi dengan uji tanding rutin dan evaluasi yang disiplin.

 

“Ke depannya kita akan menggelar pelatihan-pelatihan serupa dengan lawan tanding lain agar kemampuan atlet semakin bagus. Nanti juga ada Pelatda untuk 14 cabor yang sudah kita susun,” kata Wira.

Wira juga meminta seluruh penanggung jawab cabor memperketat pengawasan serta melakukan evaluasi terhadap setiap hasil uji tanding. Menurutnya, persiapan yang terukur menjadi modal penting agar PWI Lampung mampu meraih prestasi maksimal sekaligus sukses sebagai tuan rumah Porwanas 2027.

Dengan pola latihan dan uji tanding yang konsisten, Cabor Catur PWI Lampung diharapkan semakin siap menghadapi persaingan dan memburu prestasi terbaik di ajang Porwanas 2027.(Red)

 

Continue Reading

Trending