Connect with us

Tanggamus

Patroli Bersama GAPOKTANHUT, KPH, TNI, dan Polri Pastikan Hutan Register 31 Tetap Lestari

Published

on

Tanggamus, DNL: Semaka — Menjaga kelestarian hutan bukan sekadar tugas, melainkan amanah bersama. Hutan adalah sumber kehidupan yang harus terus mengalirkan berkah bagi generasi kini dan yang akan datang. Semangat itulah yang menjadi jiwa Gerakan Patroli Bersama kawasan hutan yang digelar Gabungan Kelompok Tani Hutan (GAPOKTANHUT) “Lestari Sejahtera”, Senin (27/7/2026), di wilayah Register 31 Pematang Arahan, Kabupaten Tanggamus.

Kegiatan ini menjadi cermin nyata persatuan antara masyarakat pengelola lahan dengan instansi berwenang. Patroli diikuti tim Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Agung Utara, Polisi Hutan (Polhut), Koramil Wonosobo,  TNI, Polsek Semaka, serta seluruh anggota GAPOKTANHUT “Lestari Sejahtera”. Sebelum menjejakkan kaki ke lapangan, seluruh peserta berkumpul di Sekretariat GAPOKTANHUT di Pekon Sedayu sebagai titik pemberangkatan yang penuh semangat kebersamaan.
Ketua GAPOKTANHUT “Lestari Sejahtera”, Rendy Hasaruddin, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian dan sinergi antar pihak. “Kami siap berdiri di garda terdepan bersama KPH, TNI, dan Polri. Satu tujuan kami teguhkan: hutan yang lestari, masyarakat yang sejahtera. Melalui patroli ini, kita dapat melakukan deteksi dini terhadap potensi pembalakan liar, bahaya kebakaran hutan, maupun okupasi kawasan yang tidak sesuai aturan,” ujar Rendy dengan penuh keyakinan.
Mewakili KPH Kota Agung Utara, Bondan Pergola memberikan apresiasi tinggi atas peran aktif masyarakat. “Tanpa dukungan dan keterlibatan masyarakat, upaya pengamanan kawasan hutan tidak akan berjalan maksimal. Anggota GAPOKTANHUT menjadi mitra sekaligus pemandu yang sangat berharga di lapangan, karena mereka paling memahami medan, batas kawasan, serta kondisi lingkungan sekitar jelasnya.
Patroli dimulai pukul 13.00 WIB dan berlangsung tertib. Selama menyisir kawasan, tim tidak menemukan pelanggaran berat seperti pembalakan liar atau perusakan kawasan. Kegiatan ditutup dengan apel konsolidasi serta penandatanganan Berita Acara Patroli Bersama oleh perwakilan masing-masing pihak sebagai bukti kesepakatan kerja sama yang kuat.
Serda Efendi dari Koramil Wonosobo menegaskan bahwa pola sinergi seperti ini akan terus dipertahankan dan ditingkatkan. “Kami akan menjadikan kegiatan ini rutin. Keharmonisan antara masyarakat, TNI, dan Polri sangat penting demi menjaga keamanan, ketertiban, serta kelestarian kawasan hutan agar tetap terjaga dengan baik,” ucapnya.
Lebih dari sekadar pengamanan, kegiatan ini juga diisi dengan upaya menghidupkan kembali kawasan yang membutuhkan perhatian. Secara simbolis, seluruh tim bersama-sama menanam bibit pohon produktif seperti petai, durian, dan manggis di lahan kritis. Langkah ini bukan sekadar menanam pohon, melainkan menanam harapan: agar hutan tetap rimbun dan lestari, sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Dengan demikian, diharapkan kesadaran menjaga hutan semakin tumbuh di setiap kalangan, dan hubungan baik antara GAPOKTANHUT dengan instansi terkait senantiasa terjalin erat. Hutan yang terjaga adalah warisan terbaik bagi masa depan — lestari, bermanfaat, dan membawa kesejahteraan yang berkah bagi semua.
ini salah satu kewajiban Gapoktanhut lestari sejahtera,selaku pemegang persetujuan perhutanan sosial serta mendukung rencana kerja tahunan 3 bulan sekali ( Rizal )

Tanggamus

Desak Sanksi untuk Oknum Kepsek yang Diduga Tahan Ijazah Siswa

Published

on

By

 Tanggamus  DNL – Persoalan dugaan penahanan ijazah siswa oleh oknum Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Kotaagung memasuki babak baru. Ketua Lembaga KPK-RI DPC Tanggamus, Herwinsyah, didampingi sekretarisnya, mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus untuk menyampaikan laporan dan mendesak adanya tindakan tegas terhadap pihak sekolah yang diduga menahan hak siswa.
Kedatangan Herwinsyah diterima oleh Kepala Bidang Kepegawaian Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Eva, pada Senin (27/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Herwinsyah mengungkapkan keprihatinannya terhadap dunia pendidikan di Tanggamus yang dinilainya masih menyisakan praktik yang merugikan peserta didik.
“Ijazah adalah hak siswa. Sangat memprihatinkan jika hak itu dijadikan tameng hanya karena persoalan pembayaran seragam yang belum lunas,”
ujar Herwinsyah.
Menurut Herwinsyah, dugaan penahanan ijazah tersebut berdampak serius terhadap masa depan siswa. Siswa yang bersangkutan disebut harus menunda pendidikan dan bahkan dikeluarkan dari sekolah lanjutan karena tidak dapat menyerahkan ijazah dari sekolah asal.
Situasi itu, kata dia, bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi telah menimbulkan beban moral dan psikologis bagi siswa yang kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan tepat waktu.
Menanggapi laporan tersebut, Kabid Kepegawaian Dinas Pendidikan, Eva, menyatakan pihaknya akan terlebih dahulu mempelajari substansi laporan guna mengidentifikasi pokok permasalahan yang terjadi.
“Kita akan pelajari dulu, lalu besar kemungkinan dalam waktu dekat akan memanggil yang bersangkutan agar masalahnya terang,” tegas Eva.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Dinas Pendidikan mulai mengambil langkah formal untuk meminta klarifikasi dari pihak kepala sekolah yang dilaporkan.
Herwinsyah meminta agar proses pemanggilan dilakukan secara objektif dan memisahkan substansi persoalan secara jelas. Ia mengungkapkan bahwa upaya persuasif sebelumnya telah dilakukan, namun pihak sekolah disebut tetap bersikeras menahan ijazah siswa.
Karena itu, pihaknya berencana melaporkan dugaan tindakan tersebut ke instansi yang berwenang dengan alasan adanya indikasi pelanggaran terhadap ketentuan di bidang pendidikan.
“Saya berharap pemanggilan ini menghasilkan poin penting yang mengarah pada pemberian sanksi terhadap oknum semacam ini, agar ada efek jera dan dunia pendidikan tidak lagi diwarnai kasus serupa,” harapnya ( tim )

Continue Reading

Tanggamus

Rasa Syukur Penuh Kehangatan: Mat Sadeli Gelar Acara Manggang-manggang Sambut Wisuda Putrinya

Published

on

By

Tanggamus – DNL | Semaka — Suasana penuh keakraban dan kebersamaan yang tulus menyelimuti kediaman Mat Sadeli, yang akrab disapa Sadel, di wilayah Pekon Waykerap. Sebuah acara sederhana namun sarat makna berupa kegiatan manggang-manggang digelar sebagai perwujudan rasa syukur yang mendalam. Momen bahagia ini diselenggarakan untuk menyambut putri tercintanya, Risa Deliyani, yang baru saja menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Jumat, 24 Juli 2026.
Acara berlangsung dalam nuansa kekeluargaan yang hangat, dihadiri oleh rekan kerja, tetangga sekitar, serta tokoh masyarakat setempat. Kehadiran para tamu menjadi wujud persaudaraan yang tulus, saling berbagi kebahagiaan sekaligus mendoakan keberkahan bagi keluarga Mat Sadeli.
Matzurani A’lumbu, selaku Kepala Pekon Waykerap yang turut hadir, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasihnya dengan penuh kehangatan.
“Terima kasih atas kehadiran seluruh hadirin di kediaman Bapak Mat Sadeli. Kehadiran rekan-rekan sekalian adalah doa yang tulus bagi putri kami, Risa Deliyani. Semoga ia senantiasa tetap rendah hati dalam melangkah, serta segala ilmu dan rezeki yang diraihnya kelak menjadi berkah dan barokah bagi dirinya maupun keluarga,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Mariyan, salah satu rekan dekat Mat Sadeli, turut menyampaikan kesan dan doanya mewakili para tamu undangan.
“Kami ucapkan terima kasih telah mengundang kami dalam momen penuh kebahagiaan ini. Di sini kami merasa sangat dihormati dan dilibatkan dalam mendoakan kesuksesan putri Bapak Mat Sadeli. Semoga Risa Deliyani senantiasa murah rezeki, dimudahkan segala urusan, dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Amin,” ungkapnya dengan tulus.
Sementara itu, Risa Deliyani sendiri tampak haru menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya, serta rasa bangga kepada kedua orang tuanya.
“Tanpa orang tua, saya tidak akan bisa menjadi apa-apa, dan tidak mungkin saya dapat meraih pencapaian seperti ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca penuh keharuan.
Kegiatan manggang-manggang ini bukan sekadar ajang berkumpul semata, melainkan cerminan nyata nilai-nilai luhur: rasa syukur, silaturahmi, dan kebersamaan yang tetap terjaga dengan baik di tengah masyarakat. Sebuah bukti bahwa kebahagiaan yang dibagi dengan keikhlasan akan berlipat ganda dengan kehadiran doa dan persaudaraan sesama.
(Rizal)

Continue Reading

Tanggamus

Polsek Wonosobo dan Polres Tanggamus Selidiki Dugaan Keracunan Bubur

Published

on

By

Tanggamus – DNL : Polsek Wonosobo bersama Polres Tanggamus melakukan penyelidikan terkait dugaan keracunan massal yang dialami puluhan warga Pekon Dadimulyo, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, usai mengonsumsi bubur sumsum yang dijual pedagang keliling. Selain menyelidiki penyebab kejadian, tim juga melakukan langkah antisipasi untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Kapolsek Wonosobo Polres Tanggamus, Iptu Primadona Laila, S.H., mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima, peristiwa tersebut mulai diketahui pada Rabu (22/7/2026) setelah warga melaporkan banyak masyarakat mengalami keluhan sakit perut, mual, muntah, diare, dan lemas usai mengonsumsi bubur sumsum yang dijual keliling oleh inisial J (42), warga setempat.
“Korban diduga mengonsumsi bubur sumsum yang dijual pedagang keliling pada Senin (20/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB di wilayah Pekon Dadimulyo. Beberapa jam setelah mengonsumsi bubur tersebut, warga mulai merasakan gejala yang sama hingga akhirnya mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan. Berdasarkan keterangan penjual, bubur sumsum yang dibawanya pada hari itu habis terjual sekitar 100 cup,” kata Iptu Primadona Laila mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H.
Kapolsek menyebut, atas informasi itu, pihaknya bersama Camat Wonosobo, Danramil Wonosobo, UPTD Puskesmas Wonosobo, serta Tim Penyelidikan Epidemiologi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal, pendataan korban, sekaligus menyelidiki penyebab kejadian.
“Berdasarkan hasil identifikasi dan pendataan korban hingga Rabu (22/7/2026) pukul 15.00 WIB, terdapat 55 warga yang mengalami gejala diduga keracunan, terdiri dari 54 warga Pekon Dadimulyo dan 1 warga Pekon Sudimoro. Sebanyak 49 orang telah dinyatakan sehat setelah mendapatkan penanganan dari dokter Puskesmas Wonosobo dan bidan desa, sedangkan 6 orang masih menjalani perawatan di puskesmas rujukan,” ujarnya.
Dalam penanganan kejadian tersebut, lanjut Kapolsek, Polsek Wonosobo bersama Satreskrim Polres Tanggamus telah melakukan sejumlah langkah kepolisian, di antaranya deteksi dini terhadap warga yang terindikasi keracunan, mengumpulkan bahan keterangan dari para saksi, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, serta melakukan pemantauan di lapangan bersama aparat pekon.
“Kami juga terus memonitor perkembangan kondisi warga yang terdampak serta mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas maupun kemungkinan munculnya keresahan di lingkungan sekitar,” bebernya.
Kapolsek mengungkapkan, saat ini terdapat 6 warga yang masih menjalani perawatan. Di Puskesmas Sanggi, yakni Daminem Astuti (41), Nurmaini (44), dan Yeni Angraini (34). Sementara di Puskesmas Siring Betik, yakni Rini Selpiyan (14), Wagiyem (66), dan Pariyah (51).
“Berdasarkan keterangan pihak medis, kondisi keenam korban semakin membaik dan terus dilakukan pemantauan secara intensif oleh tenaga kesehatan,” bebernya.
Ke depan, Polsek Wonosobo akan terus melakukan pemantauan terhadap warga yang mengalami gejala keracunan, mendeteksi perkembangan situasi di lingkungan sekitar, serta melaporkan setiap perkembangan kepada pimpinan.
“Selain itu, Bhabinkamtibmas diminta rutin menyambangi keluarga korban, sementara Unit Samapta akan meningkatkan patroli dialogis di wilayah Pekon Dadimulyo guna menjaga situasi keamanan tetap kondusif,” ungkapnya.
Iptu Primadona Laila menambahkan, penyelidikan masih berlangsung. Karena bubur sumsum yang diduga dikonsumsi warga telah habis terjual, petugas mengamankan bahan baku yang digunakan untuk membuat bubur, yakni tepung terigu, tepung beras, susu, tepung maizena, sekoteng, pasta pandan, santan, air rebusan, dan gula merah. Seluruh bahan tersebut dibawa petugas Puskesmas Siring Betik untuk dilakukan pemeriksaan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
“Kami bersama Dinas Kesehatan melakukan pengecekan di lapangan dan mengumpulkan keterangan dari para saksi. Penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Kami juga mendalami apakah ada unsur pidana dalam peristiwa ini,” imbuhnya.
Kapolsek mengimbau masyarakat tidak terpancing isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya maupun melakukan tindakan yang dapat mengganggu proses penyelidikan.
“Kami meminta masyarakat tetap tenang. Percayakan penanganan kasus ini kepada petugas. Prioritas kami saat ini memastikan seluruh korban tertangani dengan baik sekaligus mengungkap penyebab kejadian tersebut,” pungkasnya. (Widuri)

Continue Reading

Trending