Lampung Selatan, dailynewslampung – Angin laut pagi itu membawa aroma garam yang lembut ketika ribuan anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) mulai memadati kawasan Pantai Senaya Beach, Kalianda.
Pada 15–16 November 2025, sudut pantai yang biasanya tenang itu berubah menjadi panggung besar yang merekam perjalanan 45 tahun sebuah komunitas komunikasi yang tetap setia menjaga saling terhubung di tengah masyarakat : RAPI.
Dari kejauhan, panggung utama tampak mencolok dengan ornamen siger yang menjulang, memadukan corak tradisi Lampung dengan gemerlap gemerlap lampu LED. Di layar raksasa, terpampang logo “45 Harlah Nasional – Lampung” yang sesekali berganti dengan video sejarah perjuangan para penggiat komunikasi radio.

Sorak peserta dari 20 provinsi se-Indonesia membuat suasana semakin hidup, seolah pantai menjadi ruang keluarga besar yang sedang berkumpul.
Ketua Umum RAPI, Hi. Riza Fachrial, bersama para pengurus provinsi dan kabupaten, menyapa peserta dengan senyum hangat. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan panjang, sebuah penanda bahwa kebersamaan menjadi ruh utama organisasi ini.
Dari pemerintah daerah, Kepala Dinas Kominfo Provinsi Lampung hadir mewakili Gubernur, menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi RAPI dalam penguatan komunikasi publik dan kebencanaan.
“RAPI adalah jembatan informasi bagi masyarakat, terutama saat keadaan mendesak,” ujarnya, menegaskan pentingnya inovasi komunikasi di era digital.

Sorotan kamera kemudian tertuju pada Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, yang datang bersama Wakil Bupati sekaligus Ketua RAPI Kabupaten, M. Syaiful Anwar. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap sebuah organisasi yang telah lama menjadi mitra di lapangan.
Dalam sambutannya, Bupati Radityo berbicara dengan nada hangat dan penuh harapan. “Selamat Harlah ke-45 untuk RAPI. Dedikasi dan kepedulian kalian menjadi energi penting bagi masyarakat, terutama dalam komunikasi kebencanaan,” ujarnya.
Wakil Bupati Syaiful Anwar menambahkan, “Di situasi darurat, suara dari radio amatir bisa menjadi penyelamat. Kami berharap RAPI terus memperluas jaringan dan berinovasi.”
Di sela sambutan, panggung kembali bergemuruh. Para penari tradisional Lampung memasuki arena dengan busana berkilauan. Gerakan mereka yang anggun, berpadu dengan ritual budaya, membuat banyak peserta mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen. Tak sedikit pula yang mengikuti irama, membiarkan diri larut dalam budaya daerah yang menjadi tuan rumah.
Menjelang sore, suasana semakin hangat. Tenda-tenda komunitas komunikasi berdiri rapi, menampilkan berbagai perangkat radio, dokumentasi sejarah RAPI, serta ruang diskusi kecil tempat para anggota berbagi pengalaman selama bertugas dalam pelayanan sosial dan penanganan bencana. Cerita-cerita itu begitu hidup dari relawan yang membantu evakuasi warga saat banjir, hingga operator radio yang menjadi penghubung keluarga yang terpisah saat musibah.
Malam hari menjadi puncak keakraban. Lampu panggung yang dinamis memantul di permukaan laut, sementara peserta dari berbagai daerah saling bertukar pengalaman, tawa, dan kadang cerita yang membuat mata mereka berkaca-kaca. Di sinilah Harlah bukan sekadar perayaan ulang tahun melainkan ruang untuk merayakan kemanusiaan.
Harlah Nasional ke-45 RAPI di Lampung Selatan bukan hanya acara tahunan. Ia menjadi bukti bahwa sebuah komunitas yang dibangun dari gelombang radio dapat merawat solidaritas dan memperkuat jaringan kemanusiaan di seluruh Indonesia. Ketika acara ditutup dengan doa bersama, angin malam kembali berhembus, seolah membawa pesan: selagi masih ada yang peduli menyebarkan informasi demi kebaikan, suara RAPI akan terus hidup. (Red)